Minggu, 05 Mei 2013

Peradilan Sesat di Indonesia

Peradilan Sesat di Indonesia: Peradilan Sesat di Indonesia: Legenda Sengkon-Karta 1974 Bekasi



     Masih jelas dalam ingatan banyak orang bahwa pada 1974 pernah terjadi kasus yang menimpa Sengkon dan Karta. Sengkon dan Karta adalah petani berasal dari Bojongsari, Bekasi, Jawa Barat, di mana masing-masing dihukum 7 dan 12 tahun penjara atas tuduhan merampok dan membunuh suami-istri Sulaiman-Siti Haya di Desa Bojongsari, Bekasi, Jabar. Hakim Djurnetty Soetrisno lebih mempercayai cerita polisi ketimbang bantahan kedua terdakwa.


     Ternyata, kebenaran dan nasib baik saat itu berpihak pada Sengkon dan Karta serta berbalik menjadi tombak yang `melukai` para penegak hukum yang menjebloskannya ke penjara, setelah pembunuh asli (sebenarnya) Sulaiman-Siti Haya terungkap. Mereka menerima vonis pengadilan negeri Bekasi dengan hukuman 12 tahun (Sengkon) dan 7 tahun (Karta) atas dakwaan pembunuhan dan perampokan. Putusan itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jawa Barat. Putusan itu berkekuatan hukum tetap, sebab Sengkon dan Karta tidak kasasi.


     Sengkon dan Karta menjadi penghuni LP Cipinang dan dalam penjara itu mulai terkuak masalah sebenarnya. Seorang penghuni LP bernama Gunel mengaku sebagai pelaku perampokan dan pembunuhan yang dituduhkan kepada Sengkon dan Karta. Gunel diadili, terbukti dan ia dihukum sepuluh tahun penjara,


     Kasus Sengkon dan Karta menggemparkan tanah air kala itu. Albert Hasibuan seorang anggota DPR dan pengacara tersentuh hatinya dan mengusahakan pembebasan Sengkon dan Karta


     Sengkon dan Karta mengalami penderitaan luar biasa. Menurut pengakuan, mereka dipukuli aparat. Dan lebih tersiksa lagi sebab Sengkon terserang penyakit TBC di penjara Cipinang. Lebih tragis lagi,Sengkon tewas kecelakaan tak lama setelah keluar dari penjara, sedangkan Karta meninggal kemudian akibat menderita sakit parah.


     Sengkon ketika diwawancarai wartawan, mengatakan : bahwa dia hanya berdoa agar cepat mati, karena penyakit TBC terus merongrongnya dan tidak ada biaya untuk meneruskan hidup. Sudah habis terkuras menghadapi kasusnya yang panjang.


     Keluarga Karta dengan seorang isteri dan 12 orang anak kocar kacir. Semua sawah dan tanah mereka sudah dijual habis untuk biaya hidup dan membiayai perkara.Tapi, ada hikmah yang besar dengan kasus Sengkon dan Karta, sebab Mahkamah Agung menghidupkan lembaga Peninjauan Kembali (peninjauan kembali atau PK sebelum peristiwa Sengkon dan Karta tidak dikenal dalam system hukum di Indonesia) terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan tetap (berziening), Januari 1981 ketua MA Oemar Seno Adji memerintahkan kedua orang itu dibebaskan.


     Berdasarkan semua itu, kuasa Sengkon, Murtani, merasa layak menuntut ganti rugi kepada pemerintah. Ia menuntut Departemen Kehakiman c.q. Pengadilan Tinggi Jawa Barat c.q. Pengadilan Negeri Bekasi untuk membayar ganti rugi sebesar Rp 100 juta. Tapi gugatan itu, Juli 1981, ditolak Pengadilan Negeri Bekasi. Alasan ketua Pengadilan Negeri Bekasi, (ketika itu) J. Serang, pengadilannya tidak dapat "mengadili dirinya sendiri". Alamat yang tepat untuk gugatan itu, Serang menganjurkan, adalah Pengadilan NegeriJakarta Pusat.


     Murtani mengulangi gugatan itu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Namun, kembali berakhir sia-sia. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, yang diketuai Soebandi, menolak gugatan Sengkon-Karta itu. Alasannya, pengadilan tidak berwenang mengadili seorang hakim dalam menjalankan tugasnya. Keputusan itu pun dikuatkan Pengadilan Tinggi, Juli 1983.


     Upaya terakhir yang dilakukan Murtani, naik kasasi, ternyata kandas pula. Kasasi Sengkon-Karta ditolak Mahkamah Agung, karena Murtani terlambat memasukkan permohonan. Menurut hukum acara, permohonan sudah diterima Mahkamah Agung, 25 Oktober, dan Murtani baru menyampaikannya 26 Oktober 1983. "Majelis memang tidak memeriksa lagi materi perkara, karena syarat formal tidak terpenuhi," ujar Olden Bidara.


     Siapa yang salah ? Pengacara Murtani, yang mengaku tidak dibayar untuk mengurus kasus itu, menolak disalahkan. Sebab, katanya, keterlambatan itu disebabkan kesulitan anak Almarhum Karta mengurus "surat keteranan miskin" dari lurah. Padahal, surat itu perlu dilampirkan untuk meminta pembebasan biaya perkara. Tapi, seandamya syarat formal itu pun dipenuhi, menurut Murtani, kemungkinan menang bagi Sengkon dan Karta sangat tipis.

Senin, 10 Oktober 2011

SUPPORT EBES INDRA AZWAN



Menggunakan Twitter dan Hastag

TWIT INFORMASI->Tulis Info apa saja dan tambahkan "#supportebesindra" untuk berbagi Kabar tentang INDRA AZWAN

Contoh : "Situasi memanas...saiki sam gombeng memantau dr jauh...njaluk pertolongan... #supportebesindra"

twit informasi hanya untuk menginformasikan dan mungkin banyak yang membaca.

TWIT PERNYATAAN-> "indraazwan #[hastag] [pernyataan]

Contoh : "indraazwan #jalan kaki ke Jakarta"

twit akan kami broadcast ke follower kami.

Daftar hastag populer :

#AREMANIA(nama kota) : support AREMANIA(dari kota) buat INDRA AZWAN
#jalan : info perjalanan INDRA AZWAN
#spbu : info HOTEL KUDA LAUT
#kampus : info MAHASISWA
#dukung : ungkapan dukungan untuk INDRA AZWAN
#indraazwan : official information

Apa untungnya?

Pernyataan kamu akan kami teruskan kepada follower kami yang lain, kami juga berusaha menyiarkannya.

Status yang informasi yang menarik, akan diretweet dengan akun indraazwan
Follower kamu sangat mungkin bertambah karena aktifitas diatas.

Minggu, 09 Oktober 2011

Benteng Van Der Wijck











Nikmati Wisata & Sejarah di Benteng Van Der Wijck


KEHADIRAN Belanda di Indonesia tak hanya sekadar menorehkan luka akibat penjajahan. Di lain sisi, masyarakat dari negara Kicir Angin ini pun meninggalkan sebuah sejarah yang sangat penting bagi Indonesia berupa benteng pertahanan.

Benteng yang dibangun pada 1818 ini memiliki luas sekira 3.606 meter persegi dengan tinggi 9,67 meter sebagai pertahanan bangsa Belanda pada zaman penjajahan dahulu. Uniknya, nama Van Der Wijck pun diambil dari seorang perwira Belanda yang menjadi komandan dan dinilai cukup berjasa karena berhasil mengalahkan pejuang Aceh. Saat pendudukan Jepang, benteng ini juga sempat dijadikan tempat pelatihan tentara PETA.

R Anindarwati selaku Marketing Manager Benteng Van Der Wijck mengungkapkan sejarah di balik benteng Belanda yang cukup tersohor di daerah Gombong, Kebumen ini.

“Benteng ini memiliki 16 barak yang dulunya digunakan sebagai asrama tentara Belanda. Di zaman pendudukan Jepang, benteng ini dipakai untuk melatih prajurit PETA (Pembela Tanah Air). Mereka ditempatkan di barak-barak di sekitar bentang, sedangkan bagian utama benteng digunakan sebagai gudang penyimpanan bahan makanan, senjata, dan amunisi,” jelasnya sembari menceritakan awal mula kehadiran benteng Belanda.

Objek wisata sejarah yang terletak di Gombong ini juga hadir dalam bentuk yang tak kalah unik, yakni berbentuk segi delapan dan memiliki dua lantai. Dan di bagian atap benteng terdapat bangunan yang berfungsi sebagai tempat pengintaian. Seiring dengan ”angkat kakinya” Jepang dari Indonesia, benteng ini pun resmi menjadi salah satu warisan sejarah negara Indonesia. Untuk menarik minat pengunjung lokal dan mancanegara, benteng Belanda ini dipoles demi memberikan nuansa yang baru.

“Gedung ini sebenarnya milik TNI dan diserahkan untuk dikelola oleh pihak swasta tahun 1998. Saat itu Belanda lebih lama menduduki Indonesia dan dibangunlah benteng pertahanan ini,” lanjutnya.

Polesan di area benteng jelas menghilangkan kesan misteri dari sebuah benteng yang dinilai angker dan menyeramkan. Sehingga benteng Belanda hadir dengan nuansa yang menyenangkan dan lebih hangat. Bahkan, satu hal yang akan menjadi pengalaman unik para wisatawan yang menginap di benteng ini adalah mereka dapat menikmati tinggal di sebuah kamar hotel yang dahulunya adalah barak tentara.

”Pada tahun 2000 benteng ini direnovasi. Dibangun dunia mainan anak, gedung pertemuan, dan hotel untuk melengkapi sarana yang ada. Dari pihak TNI tidak memperbolehkan untuk mengubah bentuk, dan kamar hotel tersebut dahulunya memang barak tentara,” paparnya lagi.

Secara keseluruhan, hotel yang terdapat di benteng Belanda ini tidaklah dibuka untuk umum, melainkan pada momen tertentu saja.

”Hotel tidak dibuka untuk umum, kecuali Tahun Baru atau Lebaran. Sasaran kami memang lebih kepada rombongan. Bidikan kami menuju pada LSM, bahkan World Bank pun sempat mengadakan seminar di benteng ini. Benteng ini sering digunakan untuk diklat, dan untuk acara wedding juga bisa lakukan di gedung pertemuan,” jelasnya.

Berbagai acara menarik pun kerap diselenggarakan di area benteng Belanda ini, di antaranya pesta kembang api menyambut Tahun Baru atau live music selama 7 hari, 7 malam dalam rangka menyambut momen Idul Fitri.

Untuk menikmati sebuah catatan perjalanan sejarah di Benteng Van Der Wijck, Anda cukup membayar Rp4 ribu pada weekday dan Rp5 ribu di hari libur. Saatnya mengetahui sejarah lebih dalam sambil berlibur bersama keluarga.

GUA JATIJAJAR






GUA JATIJAJAR


Sejarah dan Asal Usul

Kompleks Gua wisata baik gua alam maupun buatan yang terletak sekitar 42 km barat daya Kebumen ini mencakup kawasan seluas 5,5 hektare. Objek wisata ini telah dilengkapi dengan prasarana wisata seperti tempat parkir, peturasan, tempat bermain, kios makanan, buah-buahan dan toko cindera mata.

Kompleks Gua Jatijajar mencakup Gua Jatijajar, Gua Dempok, dan Gua Intan. Kawasan ini berada sekitar 250 m di atas permukaan laut. Sistem pergunaan berkembang pada kehadiran fosil-fosil seperti Lepidocylina sumatrensis Brady, L. elegans Tan dan Cycloclypeus annulatus Martin selain menunjukkan umur batuan juga sekaligus menciri lingkungan asalnya, yaitu laut dangkal yang mempunyai kedalaman maksimum 60 m.

Kira-kira 14-11 juta tahun lalu daerah ini masih merupakan paparan laut dangkal, yang kemudian terangkat hingga ketinggiannya sekarang akibat sifat bumi yang dinamis. Tidak adanya sedimen lain yang menutupi lapisan batu gamping di daerah Gombong selatan menunjukkan jika sejak 10 juta tahun lalu daerah ini sudah berada di atas permukaan laut. Dihitung dari kurun waktu kurang dari 10 juta tahun telah terjadi pengangkatan setinggi lebih dari 300 m. Pengangkatan itu menyebabkan batuan terkekarkan dan tersesarkan. Curah hujan yang tinggi mempercepat terjadinya proses karstifikasi, membentuk kars sebagaimana terlihat sekarang.

Pintu Masuk Gua Jatijajar Tampak dari dalam

Gejala endokars ini mempunyai mulut gua yang berbangun melengkung tinggi dan lebar. Pada dinding pintu masuk sebelah kanan tersingkap sisa endapan sedimen gua yang kaya fosil moluska. Beberapa spesies grastropoda dan pelecypoda terawetkan baik pada lapisan lempung pasiran berwarna coklat tua. Sedimen berfosil ini dapat dikorelasikan dengan sedimen sejenis yang tersingkap di pintu masuk Gua Intan. Sediman di dalam Gua juga tersingkap pada sebuah sisa kanopi tua, beberapa meter dari pintu masuk. Cangkang-cangkang pipih pelecypoda pada sedimen gua ini tersusun secara alami ke arah utara sejajar dengan arah lorong utama masuk gua, yaitu utara-selatan. Bagian atap dan dinding pintu masuk gua dipenuhi oleh tulisan nama-nama pengunjung. Gravity yang paling tua tertanggal tahun 1805.

Patung Dinosaurus dan kolam

Pembentukan kanopy di dekat pintu masuk Gua Jatijajar menunjukkan adanya sungai bawahtanah yang pernah aktif beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Proses pengangkatan menyebabkan sungai menjadi kering, karena air mencari permukaan air tanah setempat yang letaknya lebih rendah. Sungai bawah tanah yang masih aktif di dalam Gua Jatijajar tersingkap melalui beberapa sendang, yang letaknya berkisar antara 1-3 m di bawah lorong fosil utama.

Sendang Kantil dan Sendang Mawar adalah kolam-kolam sungai bawah tanah yang dibuka untuk umum. Dua sendang lainnya yaitu Jombor dan Puserbumi tidak dapat dimasuki wisatawan umum, kecuali mendapat ijin dari pengelola kawasan wisata. Sebagai mata air, Sendang Puserbumi merupakan sebuah sumuran tegak bergaris tengah sekitar 50 cm. Sementara Sendang Jombor yang dihuni seekor pelus sepanjang lebih dari 1 m mempunyai sifon di dasarnya. Sifon ini dapat ditelusuri dengan metode penyelaman (cave diving). Beragam bentukan pengendapan ulang larutan CaCO3 jenuh yang indah dan mempesona dijumpai di dalam lorong gua dibalik sifon. Lorong gua sepanjang ratusan meter dihiasi dengan deretan gurdam dan air terjun. Lorong gua di bawah gua Jatijajar ini disiapkan menjadi objek wisata minat khusus. Untuk memasuki sendang di dalam Gua Jatijajar dikeramatkan dan dijadikan sebagai tempat berziarah.

Sendang Mawar

Lubang-lubang di dasar gua di dekat pintu masuk merupakan bekas-bekas penambangan fosfat guano. Ornamen gua (stalaktit, stalakmit, pilar, flowstone) umumnya sudah tidak aktif, meskipun di beberapa tempat terdapat tetesan dan leleran air melalui ujung-ujung stalaktit. Sebuah lubang di atap gua setinggi 24 m dari dasar gua, tidak jauh dari pilar besar berbangun membundar yang masih aktif, mengungkap sejarah penemuan gua pada tahun 1802 oleh Djayamenawi, Petani tersebut terperosok ke dalam gua melalui lubang yang ada dipermukaan, dan setelah tanah yang menutupi lorong dibersihkan ia menemukan lubang masuk, yaitu mulut gua sekarang.

Lorong Gua Jatijajar sepanjang 250 m, dengan lebar dan tinggi rata-rata 15-25 m, dapat dimasuki oleh wisatawan dengan mudah. Mulai tahun 1975, disepanjang lorong gua ditempatkan 32 buah patung yang menceritakan Legenda Raden Kamandaka. Di luar Gua menggambarkan kepurbaan Gua Jatijajar.

Kamandaka yang aslinya bernama Raden Banyak Contro adalah putera mahkota Kerajaan Pajajaran. Pusat pemerintahan Pasirluhur atau Galuh Timur pada abad 14 kira-kira berada di sekitar Baturaden (purwokerto), di lereng Gunung Slamet. Prabu Siliwangi raja Pajajaran pada waktu itu memiliki 2 permaisuri. Dari permaisuri pertama, Prabu Siliwangi berputra 2 orang yaitu Banyak Contro dan Banyak Ngampar. Karena permaisuri pertama meninggal, Prabu Siliwangi mengangkat permaisuri kedua, Dewi Kumudaningsih. Sebelumnya Dewi Kumudaningsih memberi syarat mau menjadi permaisuri jika anak laki-lakinya kelak dapat menjadi raja, menggantikan Prabu Siliwangi. Dari permaisuri kedua ini terturunkan Banyak Blabur dan Dewi Pamungkas.

Prabu Siliwangi yang sudah lanjut usia berencana mengangkat putra sulungnya, Banyak Contro, untuk menggantikannya. Permintaan itu ditolak oleh Banyak Contro, dengan alasan ia belum siap dan belum mempunyai pendamping. Ia hanya mau menikah dengan wanita yang mirip dengan mendiang ibunya. Untuk itu ia mengembara menuju gunung Tangkuban Perahu, menemui Ki Ajar Wirangrong. Oleh orang tua tersebut ia disuruh mengembara ke timur, menuju Kadipaten Pasir Luhur. Supaya cita-citanya beristri wanita cantik seperti ibunya terkabul, ia harus menanggalkan pakaiannya sebagai putera raja menjadi orang biasa. Banyak Contro selanjutnya menyamar menjadi orang kebanyakan, dan berganti nama menjadi Kamandaka.

Patung Raden Kamandaka

Setelah sampai di Pasir Luhur ia bertemu dengan Reksono patih Kadipaten Pasir Luhur yang menjadikannya sebagai anak angkat. Adipati Kandandoho, penguasa Kadipaten Pasir Luhur, mempunyai beberapa putri yang semuannya sudah bersuami kecuali putri bungsunya Dewi Ciptoroso. Wajah dan penampilan putri Pasir Luhur ini mirip dengan Ibu Kamandaka. Kamandaka berhasil menarik hati Dewi Ciptoroso. Tetapi pada suaru saat ketika mereka sedang berdua di taman keputren seorang prajurit kadipaten memergokinya. Kamandaka dikeroyok para prajurit, yang mengiranya sebagai pencuri. Karena kesaktiannya ia dapat meloloskan diri. Tetapi sebelumnya ia sempat mengatakan identitasnya, yaitu Kamandaka putra Patih Reksonoto. Adipati Patih Pasir Luhur murka, memanggil Patih Reksonoto supaya menangkap Kamandaka dan menyerahkan kepadanya.

Kamandaka yang melarikan diri dengan cara menceburkan diri ke sungai dilaporkan oleh Patih Reksonoto telah mati, hanyut di bawa arus sungai deras. Setelah jauh dari Pasir Luhur, Kamandaka naik ke darat berjalan menuju sebuah desa. Di Desa Paniagih ia bertemu janda miskin Mbok Kertosoro. Kamandaka selanjutnya diangkat menjadi anaknya. Mbok Kertosoro mempunyai seekor ayam jantan bernama Mercu, yang dirawat dengan baik oleh Kamandaka. Ke mana-mana ia pergi dengan ayam-ayam lainnya. Mercu selalu menang, sehingga akhirnya Kamandaka dikenal sebagai penyabung ayam yang hebat. Berita tersebut sampai di Kadipaten Pasir Luhur. Adipati Kandandoho sangat murka mendengar Kamandaka masih hidup. Ia memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Kamandaka. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba muncul silihwarni. Silihwarni yang menawarkan dirinya menjadi abdi di Pasir Luhur diterima oleh Adipati Kandandoho, asal dapat membunuh Kamandaka.

Silihwarni sebenarnya adalah Banyak Ngampar, adik kandung Kamandaka. Ia mendapat tugas dari ayahnya Prabu Siliwangi mencari kakaknya. Untuk menjaga keselamatannya di perjalanan, Banyak Ngampar dibekali senjata kerajaan, kujang Pamungkas. Karena tidak tahu kalau Kamandaka adalah kakaknya yang dicari-cari Silihwarni berangkat bersama dengan sepasukan prajurit Pasir Luhur.

Akhirnya Silihwarni sampai di Desa Paniagih, bertemu dengan Kamandaka dan menantangnya bersabung ayam. Saat ayam jantan masing-masing bersabung, Silihwarni menikam Kamandaka yang sedang lengah dengan pusaka Kujang Pamungkas. Kamandaka terluka parah, tetapi ia dapat meloloskan diri. Tempat di mana Kamandaka dapat meloloskan diri dari kepungan prajurit Pasir Luhur dan Silihwarni sekarang dinamakan Desa Brobosan (mbrobos = meloloskan diri). Saat Kamandaka beristirahat di suatu tempat, darahnya mengucur deras dari luka di lambungnya. Tempat iru kemudian diberi nama Desa Bancaran (Bancar = deras). Silihwarni bersama prajurit Pasir Luhur terus mengejarnya, dibantu anjing-anjing pelacak. Seekor anjing dapat di bunuh oleh Kamandaka di suatu tempat, yang selanjutnya desa itu dinamakan Karang Anjing. Kamandaka terus lari ke arah timur, dan sampai di ujung jalan yang buntuk (selanjutnya tempat itu dinamakan Desa Buntu).

Setelah berlari cukup jauh akhirnya Kamandaka sampai di sebuah gua. Ia bersembunyi di dalamnya. Silihwarni yang kehilangan jejak, Ia berteriak-teriak menantang Kamandaka supaya ke luar dari tempat persembunyiannya. Kamandaka menjawab, bahwa sebenarnya ia adalah putra mahkota Pajajaran Banyak Contro. Mendengar jawaban itu Silihwarni terkejut dan iapun berkata kalau sebenarnya = (sejatine) Ia juga putra Prabu Siliwangi, Banyak Ngampar. Keduanya baru sadar kalau mereka adalah bersaudara.

Selanjutnya Kamandaka bertapa di gua tersebut dan mendapat petunjuk bahwa niatnya mempersunting Dewi Ciptoroso akan tercapai jika ia berpakaian lutung (kera) Dalam petunjuk itu ia diharuskan tinggal di Hutan Baturagung, baratdaya Baturaden. Di hutan itu Kamandaka yang sudah berubah menjadi kera bertemu dengan Dewi Ciptoroso, yang ketika itu mengikuti ayahnya Adipati Kandandoho berburu. Kera yang jinak jelmaan Kamandaka segera menarik perhatian Dewi Ciptoroso, yang menurut saja saat ditangkap dan dibawa ke Pasir Luhur. Sesampainya di Pasir Luhur kera tersebut tidak mau makan apa-apa, sehingga meninmbulkan kekhawatiran Adipati Kandandoho. Ia membuat sayembara, siapa yang dapat memberi makan kera tersebut maka ia berhak memeliharanya. Banyak orang mencobanya tetapi selalu gagal, kecuali Dewi Ciptoroso. Sesuai dengan sayembara maka kera itupun dipelihara oleh putri bungsu Pasir Luhur dan diberi nama Lutung Kasarung. Pada malam hari kera tersebut berubah ujud aslinya, yaitu Kamandaka. Sedang siang hari menjelma lagi menjadi kera. hal itu hanya diketahui oleh Dewi Ciptoroso.

Dikisahkan selanjutnya, Prabu Pule Bahas dari Nusa Kambangan ingin memperistri Dewi Ciptoroso, dan mengutus kerajaan untuk meminangnya. Jika keinginan tidak dikabulkan ia akan menghancurkan Kadipaten Pasir Luhur. Atas saran Lutung Kasarung, Dewi Ciptoroso menemui ayahnya dan mengatakan kalau ia bersedia menjadi istri Prabu Pule Bahas asal persyaratan yang akan diajukannya dipenuhi. Salah satu syarat itu adalah Dewi Ciptoroso diperbolehkan membawa Lutung Kasarung pada saat pengantin dipertemukan. Prabu Pule Bahas langsung menyetujui.

Ketika upacara pengantin berlansung Lutung Kasarung selalu mengganggu, sehingga menimbulkan kejengkelan Prabu Pule Bahas. Prabu Pule Bahas memukulnya dan keduanya berkelahi. Raja Nusakambangan akhirnya tewas, digigit Lutung Kasarung. Kematian raja tersebut mengubah ujud asli Lutung Kasarung, yaitu Kamandaka. Setelah menceritakan asal-usulnya, Kamandaka akhirnya dikawinkan dengan Dewi Ciptoroso. Berita itu akhirnya sampai di Kerajaan Pajajaran. Niat Prabu Siliwangi untuk menjadikan Kamandaka sebagai raja tidak kesampaian. Karena pantang bagi seseorang yang sudah terkena pusaka kerajaan Kujang Pamungkas menjadi raja Pajajaran. Akhirnya Kamandaka atau Banyak Cokro menjadi adipati di Pasir Luhur, menggantikan ayah Dewi Ciptoroso. Sedang Banyak Blabur menggantikan Prabu siliwangi menjadi raja di Pajajaran.

Kepercayaan Masyarakat

Mata air atau sendang yang terdapat di dalam Gua Jatijajar dipercaya mempunyai khasiat tertentu, sehingga dikeramatkan. Air Sendang Puserbumi dan Jombor konon dapat digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tertentu. Sedang air Sendang Mawar dan Kantil jika untuk mencuci muka selain menjadi awet muda juga akan tercapai apa yang dicita-citakannya.

Kepercayaan yang dituturkan secara turun-temurun ini mengakar kuat di hati sanubari masyarakat Kebumen dan sekitarnya, sehigga pada hari-hari tertentu menurut penanggalan Jawa tempat tersebut ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam hari.

Gua Dempok

Segmen lorong gua sepanjang 50 m mulai dari pintu masuk merupakan bentukan alami hasil kegiatan sungai bawah tanah di masa lalu. Setempat, atap dan dinding gua dihiasi oleh stalaktit dan flowstone. Lubang di atap gua yang tembus ke permukaan (avent) berfungsi sebagai ventilasi alam, sehingga udara di dalam gua tetap segar. Lorong ini selanjutnya berhubungan dengan gua buatan, bekas penambangan kapur.

Panjang Gua Dempok tidak lebih dari 100 m, dan menjadi unik karena merupakan gabungan antara gua alam dan gua buatan. Nama Dempok diambil dari nama pemilik lahan penambangan kapur. sisa-sisa kejayaan industri kapur tohor di masa lalu diabadikan dalam bentuk tobong pembakaran batu gamping, tidak jauh dari pintu masuk Gua Dempok.

Gua Intan

Gejala endokars ini merupakan gua alam fosil yang penuh dengan ornamen yang masih aktif. Lorong-lorong di dalam Gua Intan yang berarah utara-selatan dan barat-timur genesanya berkaitan dengan pelarutan di sepanjang struktur retakan yang ada.

Sebuah stalaktit di dinding pintu masuk sebelah kanan dilingkupi oleh sedimen pasir lempungan berwarna merah kecoklatan. Sedimen tersebut mengandung fosil moluska, sehingga kehadirannya akan menguak sejarah pembentukan gua. Moluska adalah binatang darat yang hidup di sekitar gua. Ketika air hujan masuk ke dalam gua, binatang itu terangkut ke dalam gua bersama-sama dengan sedimen pasir dan lempung. Saat terjadi banjir seluruh lorong gua terendam air, dan sebuah stalaktit yang terletak 3 m dari dasar gua ditutupi oleh sedimen tersebut. Kumpulan fosil ini berumur Plistosen-Resen, sehingga Gua Intan setidaknya sudah ada sejak 1 juta tahun yang lalu.

Sebuah kubah besar berukuran 30 X 40 m dan tinggi maksimum 20 m dapat dicapai dengan melewati lubang sempit selebar 1 m. atap kubah dihiasi oleh stalaktit-stalaktit berukuran maksimum 1 m. Sebuah avent di atap kubah berfungsi sebagai ventilasi alam. Sekelompok stalaktit yang menyatu dengan stalakmit membantu pilar atau kolom setinggi beberapa meter yang indah. Ornamen gua di bagian ini umumnya masih aktif.

Di sebelah kanan ruangan pertama terdapat ruangan kedua yang disusun oleh batu gamping berlapis, dengan sebuah jembatan alam yang menghubungkan dinding kanan dan kiri ruangan. Jembatan ini merupakan sisa lapisan batu gamping yang sukar larut. Sedang lapisan batu gamping lunak di dasar jembatan sebagian besar telah habis, dikikis oleh aliran sungai bawah tanah yang pernah aktif di masa lalu. Ruangan kedua yang berukuran 20 X 40 m dan tinggi 15 m ini berakhir pada sebuah lubang sempit yang ditutupi oleh sedimen gua. lekuk-lekuk kecil di atap gua dipenuhi oleh kelelawar. Tidak adanya ventilasi di ruangan kedua ini menyebabkan udara di dalam gua sedikit panas dan pengap. Fermentasi kotoran kelelawar memungkinkan terbentuknya CO2 dan bau yang menyengat.

Sabtu, 08 Oktober 2011

The Three Brides Karya Jan Toorop




Toorop lahir di Poerworedjo (sekarang Purworejo) di Jawa Tengah. Ayah Toorop Christopher Theodore Toorop (Pekalongan, 3 Desember 1827 - Bogor, 6 November 1887) adalah seorang petugas di Dewan Distrik Begelen di Hindia Belanda. Ibunya, Maria Magdalena Cooke, lahir di Pasuruan pada tanggal 21 Juli 1837, dan meninggal di Buitenzorg pada tanggal 2 Juni 1892, adalah putri dari laut Inggris Kapten Edward Cooke dan Maria Magdalena Wohlseifer, dia setengah Cina dan setengah Jawa. Pada tahun 1863 keluarganya pindah ke Pulau Banka tempat ibunya lahir, ayah ada di sana administrator Toorop di tambang timah.

Setelah delapan belas bulan di sekolah di Batavia, yang tersisa di Januari ke Belanda untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik, sementara keluarganya tetap tinggal di Hindia Belanda. Pada tahun 1869 ia pergi ke Leiden di Belanda. Pada 1874 ia di sekolah tinggi di Winterswijk. Pada tahun 1875 ia mengambil kelas di H.J. Van der Weele di Den Haag. Lalu ia pergi ke Delft, di mana ia belajar 1876-1878 belajar di Sekolah Politeknik. Awalnya itu asuhan dalam fokus komersial, tetapi kepentingan artistik membawanya ke Akademi Negara Amsterdam seni dari 1880-1882, dipimpin oleh Agustus Allebé, kemudian di Academy of Fine Arts di Brussels, yang dipimpin oleh Jean- François Portaels.

Tinggal di Brussels pada tahun 1883 adalah positif bertekad untuk menjadi formasi artistiknya. Machelen ke waktu ia berbagi sebuah studio dengan simbolis pelukis William Degouve yang Nuncques. Dia bertemu para penulis Emile Verhaeren dan Maurice Maeterlinck dan membenamkan dirinya dalam lingkungan avant-garde artistik, didominasi oleh James Ensor dan Fernand Khnopff. Pada 1884 dan 1885 ia melakukan perjalanan ke Prancis dan Inggris. Dia sudah terdaftar pada tahun 1885 sebagai anggota kelompok ekstremis mendesis dari Les XX, Maus Oktaf progresif.

Ensor dan temannya ia pergi ke Paris dan datang terkesan dengan pointilisme Georges Seurat dan Paul Signac. Dengan Verhaeren ia berkunjung ke London pada 1884 dan 1886. Di sana ia dikejutkan oleh karya James McNeill Whistler impresionis. Pada tahun 1886 ia menikah Annie Hall bahwa ia sudah bertemu. Pada tahun 1887 mereka sebentar tinggal di Amerongen. Pada 1888 dan 1889 mereka tinggal di Inggris. Pada 1890 ia diperkenalkan di Belgia Johan Thorn Prikker Akademi Les XX.

Toorop adalah pengembangan Belanda "linier idealisme 'sebagai simbolis penting, gaya seni nouveau yang berorientasi religius. Pada 1894 ia membuat lukisan dari Nof untuk mempromosikan minyak Salad Delft, yang dinyatakan sangat Art Nouveau. Dengan ketenaran litograf ini adalah gaya Art Nouveau di Belanda juga disebut minyak sayur. Dari 1890 ke 1892 dan 1899-1904 dia tinggal di Katwijk aan Zee. Di sini dia membuat mencakup Laut (Rijksmuseum Amsterdam). Katwijk adalah pada tahun 1891 putrinya Charley Toorop lahir.

Toorop di 1902-1903 menghabiskan banyak waktu pada seni dalam pertukaran komoditas baru di Amsterdam, gesamtkunstwerk dirancang oleh HP Berlage, sekarang Beurs van Berlage. Pintu masuk utama Pameran Toorop dirancang tiga panel ubin besar "Masa Lalu, Sekarang dan Masa Depan". Untuk Hall Jagung dan Bursa Efek Aula ia membuat panel ubin. Semua bekerja dalam pameran memiliki masalah ideologis seperti emansipasi perempuan dan upliftment pekerja. Ketegangan antara simbolisme dan modus kapitalis Bursa mencolok. Di Café Beurs van Berlage di pintu masuk utama tua di Tempat de la Bourse masih merupakan pengalaman sehari-hari.

Pada awal abad terakhir (di 1897) Toorop tinggal di sebuah rumah kecil di pasar di Domburg, di Walcheren. Dia bekerja dengan sekelompok rekan artis, termasuk Black Marinus dan Piet Mondrian. Sebuah drive bersama atau gaya umum tidak ada. Setiap mengikuti kepribadian individu, tetapi mereka mencari inspirasi mereka dalam "Terang Zeeland", di bukit pasir, hutan, dan orang-orang khas Zeeland. Toorop adalah pusat. Dia akan Domburg selama 20 tahun dengan mengunjungi.

Domburg setelah keluarga tinggal 1904-1907 di Amsterdam, di mana ia lanskap dan potret dalam gaya yang lebih kuat dari lukisan. Toorop adalah sebagai ketua Lingkaran Modern Art. Setelah itu dia tinggal di berbagai alamat di Den Haag pada tahun 1908 tetapi pindah ke Nijmegen untuk 1916 di mana banyak pekerjaan agamanya mungkin menghasilkan. Selama periode ini ia bertemu Miek Janssen peran penting dalam hidupnya akan bermain. Lalu dia kembali ke Den Haag di mana usia 69 ia akan mati pada tahun 1928 setelah bertahun-tahun didorong kursi roda.

INDRA AZWAN SANG PENCARI KEADILAN DAN SEPATUNYA

Daftar Blog Saya

  • Peradilan Sesat di Indonesia - Peradilan Sesat di Indonesia: Peradilan Sesat di Indonesia: Legenda Sengkon-Karta 1974 Bekasi Masih jelas dalam ingatan banyak orang bahwa pada 1974...
    2 minggu yang lalu
  • RIP SAM IKUL-PENDIRI AREMA - Balada Petani Tua Penulis : Must Joyo on Rabu, Juni 22, 2011 | 6/22/2011 07:16:00 PM SPESIAL: Terkait kisruh di internal Arema Indonesia, Lucky Acub Zaina...
    3 minggu yang lalu
  • Hakekat Cinta ... - HAKEKAT CINTA ... "Kau tahu, hakikat cinta adalah melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati...
    3 bulan yang lalu

Daftar Blog Saya

INDRA AZWAN SANG PENCARI KEADILAN

INDRA AZWAN SANG PENCARI KEADILAN

INDRA AZWAN SANG PENCARI KEADILAN

Tampilan slide

Loading...

SANG PENCARI KEADILAN

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hostgator Discount Code